BAGANSIAPIAPI – Transparansi pengelolaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Kepenghuluan (APBK) Kepenghuluan Sungai Pinang kini menjadi sorotan tajam. Upaya konfirmasi resmi yang dilakukan oleh Pemimpin Redaksi Pesisirbertuah.com, Andre Daeng, mengenai penggunaan Dana Desa (DD) dan realisasi program kerja kepada Penghulu Sungai Pinang, Hidayatullah, justru diwarnai drama pembatalan sepihak serta sulitnya jalur komunikasi yang bersangkutan.
Sesuai dengan amanat Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik (UU KIP), masyarakat berhak mengetahui realisasi penggunaan anggaran negara di tingkat desa. Guna menjalankan fungsi kontrol sosial tersebut, pihak media mencoba melakukan wawancara langsung setelah membangun komunikasi awal via telepon WhatsApp.
Kronologi Pembatalan Sepihak dan Janji Dua Hari Lagi
Dalam komunikasi awal, Penghulu Hidayatullah menyepakati untuk bertemu langsung guna memberikan klarifikasi di Bagansiapiapi pada Kamis (11/6/2026). Saat dihubungi kembali pada hari yang ditentukan melalui pesan teks, beliau sempat merespons dan menyatakan sedang berada di perjalanan menuju lokasi.
“Iko di jalan masih pak, iyo nak ke bagan ko (Ini masih di jalan pak, iya mau ke Bagansiapiapi),” tulis Hidayatullah melalui pesan singkat.
Pada pukul 13.19 WIB, Hidayatullah kembali mengirimkan pesan yang mengabarkan keberadaannya di salah satu kedai kopi lokal. “Iko di kopi asim kami pak,” sebutnya.
Namun, setelah tim redaksi tiba di lokasi yang disebutkan dan mencoba memastikan posisi spesifik beliau untuk memulai sesi wawancara, Hidayatullah justru mendadak “menghilang”. Selama berjam-jam, nomor kontak sang Penghulu mendadak sangat sulit dihubungi. Upaya panggilan telepon maupun pengiriman pesan konfirmasi lanjutan via WhatsApp yang dilakukan berulang kali sama sekali tidak mendapatkan respons, bahkan hanya menyisakan tanda tanya.
Kejutan kembali terjadi pada sore harinya. Pukul 16.36 WIB, Penghulu Hidayatullah baru menghubungi kembali via telepon. Alih-alih meminta maaf karena membuat tim redaksi menunggu tanpa kepastian di lokasi dan mengabaikan pesan, beliau justru mengabarkan bahwa dirinya sudah pulang dan kembali mengulur waktu dengan mengajak berjumpa dua hari lagi.
Pimred Pesisirbertuah.com: Sikap Penghulu Sangat Tidak Menghargai Profesi Pers
Merespons perlakuan tersebut, Pemimpin Redaksi Pesisirbertuah.com, Andre Daeng, menyatakan kekecewaan mendalam atas sikap yang ditunjukkan oleh orang nomor satu di Kepenghuluan Sungai Pinang tersebut. Menurutnya, tindakan mengabaikan komunikasi dan membatalkan janji sepihak ini merupakan bentuk ketidakprofesionalan seorang pejabat publik.
“Kami selaku pihak media sangat menyayangkan, merasa sangat tidak dihargai, dan kecewa berat dengan sikap yang diperlihatkan oleh Penghulu Sungai Pinang, Hidayatullah. Kami datang berdasarkan komitmen waktu yang sudah disepakati bersama. Menghindar saat kami sudah di lokasi, sangat sulit ditelepon maupun di-WhatsApp, lalu tiba-tiba menelepon dari rumah dan mengulur waktu lagi, itu adalah preseden buruk bagi kemitraan pers dan pemerintah,” tegas Andre Daeng dengan nada kecewa.
Sikap enggan berkomunikasi secara ksatria yang ditunjukkan oleh oknum kepala desa ini tentu sangat disayangkan. Sebagai pejabat publik yang memimpin instansi pemerintahan tingkat kepenghuluan, sudah sepatutnya Penghulu menunjukkan sikap kooperatif dan menghargai profesi jurnalis yang dilindungi oleh UU Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.
Pasal 1 Kode Etik Jurnalistik (KEJ) menegaskan bahwa wartawan Indonesia harus bersikap independen, menghasilkan berita yang akurat, berimbang, dan tidak beritikad buruk. Upaya Pesisirbertuah.com untuk memvalidasi data secara langsung merupakan bentuk kepatuhan terhadap kode etik tersebut agar pemberitaan tidak bersifat sepihak (cover both sides).
Menghindari awak media, menutup akses komunikasi via telepon dan WhatsApp, serta mempermainkan agenda pertemuan justru berpotensi menimbulkan tanda tanya besar di tengah masyarakat mengenai akuntabilitas pengelolaan anggaran di Kepenghuluan Sungai Pinang. Ruang hak jawab tetap terbuka lebar bagi Penghulu Hidayatullah pada janji pertemuan berikutnya—jika kali ini beliau benar-benar menepatinya—demi terwujudnya informasi yang berimbang dan transparan bagi publik.
Rilis, redaksi.










